ABDYA, CRNN— Di bawah temaram lampu selasar Rumah Sakit Umum Tengku Peukan (RSUTP), keheningan malam Jumat yang penuh berkah terasa begitu khidmat. Di saat sebagian besar warga mulai beristirahat dalam doa, sebuah tim khusus masih terjaga, memikul amanah berat yang tak kasat mata namun krusial bagi martabat seorang insan.

Malam ini, Tim Pemulasaran Jenazah RSUTP kembali menunjukkan dedikasinya. Dengan langkah penuh kehati-hatian dan rasa hormat yang mendalam, mereka melaksanakan kewajiban fardhu kifayah terhadap salah seorang pasien yang baru saja mengembuskan napas terakhirnya. Tidak ada hiruk-pikuk, yang terdengar hanyalah lantunan doa yang mengiringi setiap prosesi penyucian hingga pengkafanan.

Meninggal dunia di malam Jumat,waktu yang diyakini penuh kemuliaan dalam keyakinan spiritual,memberikan nuansa haru sekaligus ketenangan tersendiri bagi keluarga maupun petugas yang mendampingi.

“Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya dan menempatkannya di tempat terbaik,” menjadi untaian doa yang terus mengalir dari bibir mereka yang bertugas.

Bagi Tim Pemulasaran RSUTP, tugas ini bukan sekadar rutinitas medis atau administratif. Ini adalah bentuk pengabdian terakhir bagi sesama manusia. Di balik seragam dan protokol yang ketat, ada hati yang tulus memastikan bahwa setiap hamba Tuhan dilepas dengan cara yang paling mulia.

Kini, seiring tuntasnya prosesi tersebut, iringan doa keselamatan tetap dipanjatkan. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan seluas samudera, dan para petugas yang tetap terjaga di garda belakang ini senantiasa diberikan kekuatan dalam menjalankan misi kemanusiaan mereka.