Cerita singkat, CRNN— Di sebuah negeri, ada sebuah bus tua bernama Harapan. Bus itu akan menempuh perjalanan panjang menuju kota yang disebut Sejahtera.
Karena sopir lama dianggap gagal membawa bus tepat waktu, para penumpang sepakat memilih sopir baru. Mereka tidak terlalu memperhatikan apakah sang sopir benar-benar ahli mengemudi bus. Yang penting, menurut mereka, sopir itu terlihat tegas, berani, dan pandai memberi pidato dari atas panggung.
“Kalau dia bisa bicara dengan lantang, pasti bisa menyetir dengan hebat,” kata sebagian penumpang.
Hari pemilihan pun tiba. Sopir baru terpilih dengan dukungan besar. Tepuk tangan bergemuruh. Banyak yang yakin perjalanan akan jauh lebih baik.
Namun setelah bus berjalan beberapa bulan, sebagian penumpang mulai heran.
Setiap kali mesin bus berisik, sopir mengadakan rapat panjang. Ketika ban mulai aus, ia berpidato tentang betapa hebatnya tujuan yang akan dicapai. Saat penumpang bertanya mengapa bus berjalan lambat, sopir menunjuk ke kaca spion sambil berkata, “Lihat saja kerusakan yang ditinggalkan sopir lama.”
Sebagian penumpang masih bersabar.
“Tunggu saja, sopir sedang bekerja,” kata mereka.
Tetapi ada juga yang mulai bertanya, “Bukankah tugas sopir bukan sekadar berbicara tentang jalan, melainkan membawa bus sampai tujuan?”
Bus terus melaju. Kadang belok ke kiri, kadang ke kanan, kadang berhenti mendadak. Penumpang makin bingung karena arah perjalanan sering berubah.
Suatu hari seorang penumpang tua berdiri dan berkata:
“Kesalahan terbesar bukan ketika sopir tidak pandai mengemudi. Kesalahan terbesar adalah ketika penumpang memilih sopir berdasarkan suara yang paling keras, bukan kemampuan memegang kemudi.”
Bus mendadak sunyi.
Sebab semua sadar, sebelum menyalahkan sopir, mereka juga harus bercermin. Merekalah yang dulu menyerahkan kemudi tanpa cukup memeriksa apakah orang yang dipilih benar-benar mampu membawa bus menuju tujuan.
Dan sejak saat itu, para penumpang belajar satu hal:
Dalam perjalanan sebuah negeri, kemudi memang dipegang sopir. Tetapi arah akhirnya juga ditentukan oleh kebijaksanaan penumpang saat memilih siapa yang duduk di kursi pengemudi.