Bekasi|CRNN—Peristiwa tragis menimpa seorang pensiunan bernama Ermanto Usman yang ditemukan tewas mengenaskan di kamar rumahnya di kawasan Bekasi, pada Senin (2/3/2026). Korban ditemukan dalam kondisi bersimbah darah di samping istrinya yang saat ini masih menjalani perawatan intensif akibat luka serius yang dialaminya.

Kejadian tersebut awalnya diduga sebagai aksi perampokan. Namun, sejumlah pihak mulai meragukan dugaan tersebut setelah melihat latar belakang korban dan kondisi peristiwa yang terjadi.

Anggota Komisi VI DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, turut mendesak aparat kepolisian untuk mengusut kasus ini secara serius. Ia meminta agar penyelidikan tidak hanya berhenti pada dugaan perampokan, tetapi juga membuka kemungkinan adanya unsur pembunuhan berencana.

Kecurigaan serupa juga disampaikan oleh anak pertama korban, Fiandy A Putra (33). Ia meyakini kematian ayahnya bukan sekadar peristiwa kriminal biasa.

Menurut Putra, ayahnya telah pensiun sejak sekitar sembilan tahun lalu dari PT Jakarta International Container Terminal (JICT), yang merupakan anak perusahaan dari Pelindo. Meski telah pensiun, Ermanto disebut masih aktif menyuarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kondisi pekerja di sektor pelabuhan.

“Bapak saya sudah sembilan tahun lalu pensiun dari PT JICT. Apa yang dilakukan ayah saya adalah sesuatu yang kami tahu bersama seperti apa risikonya,” kata Putra, Selasa (3/3/2026).

Ia menambahkan, ayahnya selama ini berupaya membuka berbagai persoalan yang menurutnya perlu diketahui publik, terutama terkait kondisi para pekerja di lapangan.

“Karena ayah saya mencoba membuka kebenaran dan memperjuangkan orang-orang di lapangan yang hidupnya susah,” ujarnya.

Perhatian publik terhadap kasus ini semakin meningkat setelah beredar rekaman wawancara korban di sebuah podcast Forum Keadilan TV yang dilakukan sebelum peristiwa tersebut terjadi. Dalam perbincangan tersebut, Ermanto sempat menyebut sejumlah nama tokoh yang menurutnya berkaitan dengan dugaan persoalan dalam pengelolaan terminal.

Beberapa nama yang disebut antara lain Erick Thohir, Garibaldi Thohir, Patrick Sugito Walujo, serta Rini Soemarno.

Beredarnya potongan pernyataan tersebut memicu berbagai spekulasi di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan apakah peristiwa yang menewaskan Ermanto benar-benar murni aksi perampokan, atau justru berkaitan dengan upayanya mengungkap sejumlah persoalan yang selama ini ia suarakan.

Meski demikian, hingga saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap secara pasti motif di balik peristiwa tragis tersebut. Aparat juga masih mengumpulkan berbagai bukti dan keterangan saksi guna memastikan apakah kasus ini merupakan tindak kriminal biasa atau memiliki latar belakang yang lebih kompleks.

Sementara itu, kondisi istri korban yang menjadi satu-satunya saksi dalam kejadian tersebut masih kritis dan menjalani perawatan di rumah sakit. Polisi berharap kesaksiannya kelak dapat membantu mengungkap kronologi sebenarnya dari tragedi yang menghebohkan publik ini.