ACEH|CRNN—Suara kritik terhadap kekuasaan kembali mendapat pembelaan tegas dari tokoh masyarakat Aceh. Komandan SBN Aceh, Tgk Misbar As Salmani, menegaskan bahwa menyampaikan kebenaran tidak boleh tunduk pada kompromi atau tekanan kepentingan apa pun.

Dalam pernyataannya, Tgk Misbar menyampaikan bahwa kebenaran tidak boleh dinegosiasikan. Ia menilai, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keberanian untuk menyuarakan kebenaran merupakan fondasi penting agar kekuasaan tetap berada di jalur yang benar.

“Kebenaran tidak boleh ditawar, tidak boleh dibungkam, dan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan apa pun,” tegasnya.

Menurutnya, kritik yang disampaikan oleh media sering kali disalahpahami sebagai upaya untuk menjatuhkan pihak tertentu. Padahal, dalam praktik demokrasi yang sehat, kritik justru berfungsi sebagai mekanisme koreksi agar kesalahan dapat diperbaiki sebelum menjadi masalah yang lebih besar.

Ia mengibaratkan kritik media sebagai cermin bagi para pemegang kekuasaan. Melalui kritik tersebut, pemerintah dan para pengambil kebijakan memiliki kesempatan untuk melihat kelemahan dan kekeliruan yang mungkin selama ini luput dari perhatian.

“Kritikan media bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Kritikan media adalah cermin agar kita berani melihat kesalahan sendiri dan bangkit dari keterpurukan,” ujarnya.

Tgk Misbar juga mengingatkan agar masyarakat dan para pemimpin tidak keliru menilai suara kritik. Menurutnya, pihak yang paling sering merasa terganggu oleh kritik biasanya adalah mereka yang tidak ingin memperbaiki kesalahan yang ada.

Ia menegaskan bahwa media yang berani menyampaikan kritik seharusnya tidak dianggap sebagai lawan. Sebaliknya, keberanian tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap jalannya pemerintahan agar tidak terjerumus dalam kesombongan kekuasaan.

“Media yang berani mengkritik bukan musuh. Justru mereka sedang mengingatkan agar kekuasaan tidak tenggelam dalam kesombongan dan kelalaian,” kata Tgk Misbar.

Di akhir pernyataannya, ia menekankan bahwa kritik seharusnya tidak dimusuhi. Menurutnya, musuh yang sebenarnya bukanlah suara kritik, melainkan kesalahan yang terus dibiarkan tanpa ada upaya perbaikan.

“Jangan pernah memusuhi kritik. Musuh sebenarnya adalah kesalahan yang dibiarkan terus hidup tanpa perbaikan,” pungkasnya.