ACEH BARAT DAYA —CRNN– Persoalan antrean panjang solar subsidi di Kabupaten Aceh Barat Daya mulai membuka tabir persoalan yang lebih serius. Di balik keluhan para supir dump truck yang kesulitan mendapatkan BBM subsidi, muncul dugaan adanya praktik “lansir bongkar jual” yang justru melibatkan kendaraan truck itu sendiri.

Senin malam, 11 Mei lalu, puluhan supir dump truck mendatangi pendopo Bupati Abdya untuk menyampaikan keresahan mereka terkait sulitnya memperoleh solar subsidi di sejumlah SPBU. Salah satu poin yang disampaikan ialah permintaan pembatasan pengisian menggunakan jerigen yang disebut diperuntukkan bagi nelayan.

Namun di tengah tuntutan itu, fakta lain justru mencuat di lapangan. Berdasarkan penelusuran wartawan CRNN, dugaan praktik lansir bongkar jual solar subsidi diduga juga dilakukan menggunakan kendaraan truck. Modusnya, kendaraan mengisi solar subsidi di SPBU, kemudian BBM tersebut dibongkar dan dijual kembali kepada penampung dengan harga lebih tinggi. Setelah itu kendaraan kembali mengantre untuk mengisi ulang.

Fenomena ini disebut menjadi salah satu penyebab antrean solar subsidi di Abdya nyaris tak pernah sepi setiap harinya. Bahkan sejumlah warga menilai ada kendaraan tertentu yang hampir setiap hari terlihat mengisi solar di SPBU.

“Seperti mobil itu bang, coba lihat. Setiap hari dia isi solar, memang ke mana jalannya dia,” ujar seorang warga kepada wartawan.

Pantauan di beberapa SPBU juga memperlihatkan adanya kendaraan yang dinilai tidak layak sebagai kendaraan operasional angkutan, namun tetap ikut mengantre solar subsidi. Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa sebagian kendaraan hanya dijadikan alat untuk melakukan praktik lansir BBM subsidi.

Informasi lain yang berkembang di tengah masyarakat menyebut adanya dugaan tempat penampungan solar subsidi di sebuah bengkel kawasan Suak, Kecamatan Setia. Meski begitu, hingga kini belum ditemukan bukti otentik terkait lokasi penampungan tersebut.

Dan diharapkan agar warga yang mengetahui kegiatan praktik bongkar lansir solar ini,agar memberikan informasi kepada aparat hukum maupun media /wartawan

Dalam pertemuan dengan para supir, Pemerintah Kabupaten Abdya turut memanggil pihak SPBU dan meminta pembatasan pengisian BBM solar subsidi untuk seluruh kendaraan tanpa terkecuali. Seorang sumber berinisial Bintang (nama samaran) menyebut saat ini pengisian dibatasi sekitar Rp650 ribu per kendaraan.

Perbedaan harga antara solar subsidi dan non subsidi disebut menjadi pemicu utama maraknya praktik bongkar jual ini. Selisih keuntungan yang menggiurkan membuat dugaan permainan solar subsidi terus tumbuh dan menjadi bisnis terselubung yang merugikan masyarakat luas.

Warga berharap aparat penegak hukum tidak hanya fokus pada antrean di SPBU, tetapi juga serius mengusut dugaan jaringan penampung serta kendaraan yang diduga berulang kali melakukan lansir. Mereka menilai praktik ini tidak akan berhenti bila pengawasan masih lemah dan penindakan dilakukan setengah hati.

“Kalau aparat benar-benar teliti dan tegas, sebenarnya permainan seperti ini mudah dibongkar,” ungkap seorang warga.

Kini persoalan solar subsidi di Abdya tidak lagi sekadar soal kelangkaan BBM, melainkan sudah mengarah pada dugaan penyalahgunaan subsidi negara yang dilakukan secara terorganisir.