Jakarta |CRNN— Prabowo Subianto menyatakan optimisme bahwa Indonesia mampu memperkuat kemandirian energi nasional, meskipun dunia saat ini menghadapi berbagai krisis global. Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi momentum untuk mempercepat transformasi nasional, khususnya menuju swasembada pangan dan energi.
Hal itu disampaikan Presiden saat memberikan pengantar dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara pada Jumat (13/3/2026).
Dalam arahannya, Presiden menilai krisis global yang melanda berbagai negara telah mendorong pemerintah untuk mempercepat langkah-langkah strategis yang sebenarnya telah dirancang sejak lama.
“Menurut saya, krisis justru mempercepat rencana transformasi kita. Dari dulu kita ingin swasembada pangan dan swasembada energi, dan sekarang langkah itu harus dipercepat,” ujar Presiden.
Percepat Transisi Energi Terbarukan
Presiden menegaskan bahwa Indonesia harus segera melakukan transisi menuju energi terbarukan serta memaksimalkan sumber energi yang berasal dari dalam negeri. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Indonesia, kata Presiden, memiliki berbagai sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi energi alternatif, terutama dari sektor pertanian. Komoditas seperti kelapa sawit, tebu, singkong, dan jagung berpotensi diolah menjadi bahan bakar nabati seperti biodiesel dan bioetanol.
Selain itu, potensi energi terbarukan lain seperti panas bumi dan tenaga air juga dinilai sangat besar dan perlu dimanfaatkan secara optimal.
Target 100 Gigawatt Tenaga Surya
Dalam upaya mempercepat pembangunan energi bersih, pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas hingga 100 gigawatt dalam dua tahun ke depan.
Untuk merealisasikan target tersebut, diperkirakan dibutuhkan lahan sekitar 100 ribu hektare, yang sebagian besar potensinya telah diidentifikasi oleh pemerintah.
“Target kita adalah pembangunan tenaga surya sebesar 100 gigawatt yang diharapkan selesai dalam dua tahun. Untuk itu diperlukan sekitar 100 ribu hektare lahan,” jelas Presiden.
Penemuan Ladang Gas Baru
Selain fokus pada energi terbarukan, Presiden juga mengungkapkan adanya penemuan sumber gas baru yang berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional. Salah satunya adalah ladang gas besar di wilayah Andaman yang akan segera dikembangkan oleh perusahaan energi asal Uni Emirat Arab, Mubadala Energy.
Di samping itu, pemerintah juga akan mempercepat pengembangan ladang gas raksasa Blok Masela yang selama ini dikenal memiliki potensi cadangan gas yang sangat besar.
Dengan berbagai sumber daya alam yang dimiliki, Presiden optimistis Indonesia mampu menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat fondasi kemandirian nasional, terutama di sektor pangan dan energi.
Menurutnya, percepatan transformasi energi menjadi salah satu kunci agar Indonesia tidak hanya mampu bertahan dari krisis global, tetapi juga tampil sebagai negara yang mandiri dan berdaulat dalam pengelolaan sumber daya energinya.