ABDYA | CRNN— Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadhan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menuai gelombang kritik dari para orang tua siswa. Menu yang dibagikan dinilai tidak sebanding dengan anggaran pemerintah dan jauh dari ekspektasi masyarakat.
Berdasarkan pantauan di lapangan, paket MBG dibagikan satu kali untuk kebutuhan tiga hari. Dalam satu paket, siswa menerima tiga roti pabrikan, tiga buah, tiga telur rebus, dan tiga bungkus kacang. Skema ini langsung memicu tanda tanya besar di kalangan wali murid.
“Ini untuk tiga hari? Anak-anak puasa, tapi yang diberikan hanya seperti ini,” keluh salah seorang orang tua siswa.
Abdul: Lebih Baik Diuangkan Saja
Seorang wali murid bernama Abdul secara terbuka menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai menu tersebut tidak mencerminkan program bergizi seperti yang digaungkan pemerintah.
“Lebih baik diuangkan saja daripada begini. Jangan sampai ini hanya jadi ladang bisnis dan korupsi,” tegas Abdul.
Menurutnya, jika dana tersebut diserahkan langsung kepada orang tua, mereka bisa mengelola sendiri kebutuhan makanan anak selama Ramadhan. Ia menilai masakan di rumah jauh lebih terjamin kualitas, kebersihan, dan kecocokannya dengan selera anak.
“Kami yang setiap hari bersama anak, kami tahu apa yang mereka suka dan apa yang tidak. Lebih sehat kalau dimasak sendiri,” tambahnya.
Dinilai Tak Seimbang dengan Anggaran
Kekecewaan orang tua tidak hanya pada komposisi menu, tetapi juga pada dugaan ketidaksesuaian antara anggaran dan realisasi di lapangan. Mereka mempertanyakan transparansi pengelolaan dana MBG, terutama jika dibandingkan dengan isi paket yang dinilai sederhana.
Sejumlah wali murid menyebut, jika dihitung secara kasar, nilai makanan dalam satu paket tersebut tidak sebanding dengan besaran anggaran per siswa yang selama ini disebut cukup besar.
Isu ini kini menjadi perbincangan hangat di lingkungan sekolah dan masyarakat Abdya. Para orang tua mendesak adanya penjelasan terbuka dari pihak pengelola dapur SPPG maupun instansi terkait mengenai standar gizi, mekanisme pembagian, serta rincian anggaran program MBG selama Ramadhan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait untuk menjawab keluhan tersebut. Namun suara protes orang tua kian menguat, menuntut agar program yang sejatinya untuk kesejahteraan anak-anak tidak berubah menjadi polemik yang menimbulkan kecurigaan publik.