ABDYA|CRNN—Ancaman maut mengintai para pengguna jalan di jembatan penghubung Desa Gelima Jaya dan Desa Pulau Kayu Kecamatan Susoh kabupaten Abdya. Tepat di tengah jembatan yang berada di kawasan jalan nasional, terdapat lubang menganga selebar sekitar 10 sentimeter dengan panjang mencapai 3 meter, kondisi yang dinilai sangat membahayakan keselamatan pengendara.

Jembatan tersebut berada di bawah kewenangan Balai Jalan Nasional (BJN). Namun ironisnya, hingga kini belum terlihat langkah cepat maupun tindakan darurat dari pihak penanggung jawab.

Herman, salah seorang pengendara yang hampir setiap hari melintasi jembatan tersebut, mengaku was-was, terutama saat malam hari.

“Lubangnya besar, hampir seukuran ban sepeda motor. Kalau malam sangat berbahaya, apalagi tanpa rambu peringatan,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa juga disuarakan warga sekitar. Mereka mempertanyakan sikap BJN yang dinilai acuh dan lamban dalam merespons kondisi infrastruktur yang berpotensi merenggut nyawa.

“Apakah harus tunggu ada korban dulu baru diperbaiki?” kata seorang warga dengan nada kesal.

Upaya konfirmasi yang dilakukan media CRNN kepada Koordinator Lapangan (Korlap) BJN Alfian, Sesuai wilayah kerja pun menemui jalan buntu. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada satu pun tanggapan yang diberikan. Sikap bungkam ini semakin menguatkan dugaan publik bahwa keselamatan masyarakat bukanlah prioritas.

Padahal, sebagai pengelola jalan dan jembatan nasional, BJN memiliki kewajiban hukum dan moral untuk memastikan kondisi infrastruktur tetap aman dan laik dilalui. Pembiaran terhadap kerusakan semacam ini bukan hanya bentuk kelalaian, tetapi juga membuka ruang terjadinya kecelakaan fatal.

Masyarakat mendesak agar BJN serta pejabat BJN yang bertanggung jawab segera turun ke lapangan, setidaknya memasang rambu peringatan darurat sebelum jatuh korban. Jika tidak, maka lubang di jembatan ini bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan simbol abainya negara terhadap keselamatan warganya.