Banda Aceh , CRNN— Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait tidak adanya lagi pengungsi banjir yang tinggal di tenda di Aceh menuai kritik dari kalangan mahasiswa.

Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tengku Raja Aulia Habibie, menilai klaim tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Ia menyebut ribuan warga masih bertahan di pengungsian hingga saat ini.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 19 Maret 2026, terdapat sekitar 5.000 hingga 6.000 jiwa yang masih tinggal di tenda pengungsian akibat banjir.

“Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Jangan menipu masyarakat Aceh dan Indonesia. Ribuan warga hingga hari ini masih tinggal di tenda dan belum mendapatkan tempat tinggal yang layak,” tegas Habibie dalam keterangannya, Minggu (22/3/2026).

Pengungsi Tersebar di Sejumlah Wilayah

Habibie menjelaskan, para pengungsi tersebar di berbagai daerah terdampak banjir, antara lain:

Aceh Tamiang

Aceh Utara

Gayo Lues

Aceh Tengah

Pidie Jaya

Bener Meriah

Aceh Timur

Menurutnya, warga belum bisa kembali ke rumah karena banyak hunian yang rusak berat serta belum tersedianya tempat tinggal sementara yang layak dan merata.

Ramadan di Tengah Keterbatasan

Ia juga menyoroti kondisi para pengungsi yang menjalani ibadah di bulan Ramadan dalam keterbatasan.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Hari raya Idulfitri yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan justru dirasakan dengan penderitaan oleh masyarakat yang masih tinggal di tenda,” ujarnya.

Habibie menyebut banyak warga masih kekurangan kebutuhan dasar, mulai dari logistik hingga fasilitas tempat tinggal yang memadai.

Kritik Kinerja Pemerintah

Lebih lanjut, ia menilai pemerintah terlalu banyak menyampaikan janji tanpa diimbangi realisasi di lapangan. Proses pemulihan pascabanjir dinilai berjalan lambat dan tidak sesuai dengan yang disampaikan kepada publik.

“Jangan hanya fokus pada pencitraan dan laporan yang belum tentu benar, sementara masyarakat masih menderita,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan administratif tanpa melihat kondisi riil di lapangan.

Tantangan Terbuka untuk Presiden

Dalam pernyataannya, Habibie bahkan menantang Presiden untuk datang langsung ke Aceh tanpa protokoler guna melihat kondisi sebenarnya.

“Jika Presiden benar-benar ingin melihat fakta, datanglah tanpa pengawalan, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Datanglah sebagai rakyat, agar bisa melihat langsung bagaimana penderitaan masyarakat,” katanya.

Desak Percepatan Penanganan

Di akhir pernyataannya, Habibie mendesak pemerintah agar tidak menutup mata terhadap kondisi pengungsi serta segera mempercepat distribusi bantuan dan pembangunan hunian layak.

“Jangan menutup mata terhadap penderitaan masyarakat,” tutupnya.