ABDYA|CRNN–– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi tameng kesehatan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan pelajar, justru memantik keprihatinan serius di Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya. Ketela basi dan nasi yang belum masak ditemukan dalam ompreng MBG yang disalurkan dapur MBG Babahrot di bawah naungan Yayasan Peduli Kemakmuran Rakyat.
Kasus ini mencuat setelah Tengku Misbar As Salmani, Komandan Santri Bela Negara (SBN) Aceh,yang juga Ketua Humas Media CRNN,(Chanel rakyat Nusantara.News), Mengungkapkan langsung temuan tersebut. Ironisnya, makanan bermasalah itu bukan sekadar laporan warga, melainkan diterima langsung oleh istrinya sendiri sebagai jatah MBG untuk ibu menyusui.
“Ini bukan cerita orang lain. Ini makanan yang diterima langsung oleh keluarga saya,” tegas Tengku Misbar.
Dapur MBG Babahrot yang dikelola melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan kepala SPPG Edy Saputra—yang disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan salah satu anggota dewan di Aceh Barat Daya—menjadi sorotan tajam. Selain ketela yang telah basi, sebelumnya juga ditemukan nasi yang belum matang dalam sajian MBG yang sama.
Bagi Tengku Misbar, persoalan ini bukan sekadar soal rasa atau kelalaian teknis. Ia menilai, esensi program gizi telah dirusak oleh orientasi usaha.
“MBG ini program gizi, bukan program bisnis. Jangan jadikan perut ibu hamil, ibu menyusui, dan pelajar sebagai ladang keuntungan,” ujarnya dengan nada keras.
Lebih memprihatinkan lagi, dapur MBG Babahrot diketahui menyuplai makanan tidak hanya untuk sekolah-sekolah, tetapi juga untuk kelompok rentan seperti ibu hamil dan menyusui. Kesalahan kecil dalam dapur, kata Tengku Misbar, bisa berdampak besar pada kesehatan bahkan nyawa manusia.
Ia juga menyoroti maraknya keluhan serupa yang beredar luas di media sosial, di mana banyak dapur MBG di berbagai daerah dilaporkan tidak memenuhi standar operasional prosedur (SOP), mulai dari makanan basi, pengolahan tidak higienis, hingga kualitas gizi yang dipertanyakan.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak pengelola dapur MBG Babahrot disebut telah mendatangi langsung Tengku Misbar untuk menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian yang terjadi. Namun bagi Tengku Misbar, permintaan maaf tidak cukup jika tidak disertai evaluasi menyeluruh dan penindakan tegas.

“Ini soal nyawa. Ini soal masa depan bangsa. Para pelajar adalah tombak negeri ini, dan ibu hamil serta menyusui adalah penentu generasi berikutnya,” tegasnya.
Atas kejadian tersebut, Tengku Misbar secara terbuka mendesak aparat kepolisian dan instansi terkait untuk menindak tegas setiap dapur MBG yang tidak patuh SOP dan hanya mengejar keuntungan semata dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
“Jangan tunggu ada korban. Negara tidak boleh kalah oleh dapur yang lalai,” pungkasnya.