Aceh, CRNN— Sosok sederhana yang dikenal luas karena pengorbanannya menjual tanah dan emas demi membantu pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001, kini telah berpulang. Ia meninggalkan jejak pengabdian yang tak lekang dalam sejarah perjuangan negeri ini.
Nyak Sandang mengembuskan napas terakhir pada pukul 12.20 WIB di kediamannya di Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, dalam usia sekitar 100 tahun. Kepergiannya bukan karena penyakit berat, melainkan karena kondisi fisik yang melemah dimakan usia.
Cucunya, Ataillah, menyebut bahwa almarhum selama ini tidak dalam kondisi sakit serius.
“Memang sudah lemah, tapi tidak ada penyakit berat. Usia beliau sudah sekitar 100 tahun,” ujarnya singkat.
Kisah Pengorbanan di Usia Muda
Nama Nyak Sandang tercatat sebagai bagian penting dalam sejarah bangsa. Pada tahun 1948, saat Presiden pertama RI Soekarno berkunjung ke Aceh untuk menghimpun dukungan mempertahankan kedaulatan negara, Nyak Sandang yang kala itu masih berusia 23 tahun tergerak untuk ikut berkontribusi.
Ia menjual sepetak tanah dan emas seberat 10 gram. Dari hasil penjualan itu, ia memperoleh Rp100—jumlah yang sangat berarti saat itu—dan menyerahkannya sepenuhnya kepada negara.
Aksi kecil namun tulus itu menjadi bagian dari gelombang besar dukungan rakyat Aceh. Dalam kunjungan tersebut, Soekarno menerima sekitar 120.000 dolar Singapura dan 20 kilogram emas murni dari masyarakat Aceh. Dana itu kemudian digunakan untuk membeli dua pesawat, Seulawah RI-001 dan Seulawah RI-002, yang kelak menjadi cikal bakal Garuda Indonesia.
Sebagai bukti kontribusinya, Nyak Sandang menerima obligasi pembelian pesawat Seulawah RI-001 tertanggal 9 Oktober 1950. Dari keluarga sederhana, ia menunjukkan bahwa cinta tanah air tidak diukur dari kekayaan, melainkan dari keikhlasan berkorban.
Hidup Sederhana, Jasa Luar Biasa
Dalam kesehariannya, Nyak Sandang dikenal sebagai sosok yang sederhana, pendiam, dan religius. Ia tidak pernah menonjolkan jasa besarnya, memilih menjalani hidup tenang di kampung halaman.
Namanya kembali menjadi perhatian nasional saat Presiden ke-7 RI Joko Widodo mengunjunginya pada 2018. Dalam pertemuan itu, Nyak Sandang tidak menuntut pengembalian obligasi, melainkan hanya menyampaikan tiga permohonan sederhana:
- Bantuan operasi katarak
- Pembangunan masjid di kampungnya
- Keinginan menunaikan ibadah haji
Permintaan tersebut sebagian besar terwujud. Masjid Baitussalam Nyak Sandang berdiri dan diresmikan pada 2022. Sementara keinginan berhaji, karena keterbatasan kesehatan, diwujudkan dalam bentuk ibadah umrah pada 2019.
Atas jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Jasa Utama oleh Presiden Prabowo Subianto, sebagai bentuk penghormatan negara terhadap rakyat kecil yang berkontribusi besar.
Ironi Zaman: Dari Pengorbanan ke Pengkhianatan
Namun, di balik kisah pengorbanan Nyak Sandang yang begitu tulus, realitas hari ini menghadirkan ironi yang menyakitkan.
Dulu, rakyat dengan penuh keikhlasan menjual tanah dan emas demi berdirinya negara. Kini, justru tidak sedikit oknum pejabat yang tega “menjual” negara demi kepentingan pribadi.
Jika dahulu rakyat berkorban untuk negara, hari ini kita menyaksikan sebagian pejabat mengorbankan negara untuk memperkaya diri, keluarga, dan kolega. Nilai pengabdian perlahan tergeser oleh nafsu dan keserakahan.
Perbedaan ini bukan sekadar soal zaman—ini adalah soal moral dan integritas.
Nyak Sandang telah membuktikan bahwa cinta kepada bangsa tidak membutuhkan pangkat atau jabatan. Ia hanya membutuhkan hati yang tulus.
Dan kini, ketika ia telah tiada, pertanyaannya tersisa untuk kita semua:
apakah semangat pengorbanan itu masih hidup, atau justru ikut terkubur bersama para pejuang seperti dirinya?
Nama asli dari tokoh penyumbang pesawat pertama RI, Nyak Sandang, adalah Teungku Nyak Sandang bin Lamudin. Beliau lahir pada 4 Februari 1927 di Mukhan, Indra Jaya, Aceh Jaya, dan meninggal pada 7 April 2026 di usianya yang mencapai 100 tahun lebih. Beliau adalah pahlawan yang menyumbangkan emas dan tanah demi pembelian pesawat Seulawah RI-001.