BLANGPIDIE – CRNN— Setiap tahun masyarakat diajak memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan berbagai kegiatan, mulai dari upacara hingga karnaval. Namun, di balik kemeriahan tersebut, sebagian masyarakat justru mempertanyakan makna kemerdekaan ketika beban kehidupan semakin berat.
Seorang ibu yang berbicara kepada media CRNN menilai, kemeriahan karnaval terkadang tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan masyarakat, terutama para orang tua siswa.
“Manfaatnya tidak sepadan dengan pengeluarannya. Setiap tahun memeriahkan kemerdekaan, tetapi untuk karnaval saja orang tua siswa yang harus keluar biaya,” tuturnya.
Menurutnya, persoalan yang lebih besar justru berada pada kebutuhan hidup yang semakin mahal. Harga beras, minyak goreng, telur, gula, sayur-mayur, ikan, daging hingga berbagai kebutuhan rumah tangga dirasakan semakin membebani masyarakat.
Harga naik, penghasilan belum tentu ikut naik.
Bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan, kenaikan harga beberapa ribu rupiah saja pada satu jenis kebutuhan dapat berdampak besar terhadap pengeluaran rumah tangga. Belum lagi biaya pendidikan anak, listrik, transportasi, bahan bakar, sewa rumah dan kebutuhan lainnya.
“Belum lagi harga kebutuhan sehari-hari yang terus naik. Beras naik, telur naik, minyak goreng mahal, kebutuhan dapur semakin banyak. Sementara mencari pekerjaan juga sulit,” katanya.
Ia juga menyinggung meme yang beredar di media sosial yang menggambarkan pejabat duduk santai di bawah tenda saat peserta dan masyarakat berada di bawah terik matahari.
Menurutnya, gambaran tersebut menjadi simbol keresahan sebagian masyarakat terhadap jarak antara mereka yang berada di lingkaran kekuasaan dengan rakyat biasa.
“Ini bukan hanya persoalan pejabat duduk di bawah tenda. Tapi bagaimana rakyat melihat kondisi mereka sendiri. Masyarakat harus berdiri di bawah panas, sementara kebutuhan hidup juga semakin panas,” ujarnya.
Ia mempertanyakan, apakah kemerdekaan hanya dimaknai melalui seremoni satu hari dalam setahun.
Sementara sepanjang tahun masyarakat harus berhadapan dengan harga kebutuhan pokok yang tinggi, sulitnya lapangan pekerjaan, pendapatan yang terbatas serta persoalan keadilan hukum.
Fenomena lain yang sempat menjadi perhatian di media sosial adalah kabar seorang tukang pangkas yang didatangi pihak kecamatan dan ditanyai mengapa tidak memasang bendera Merah Putih serta mengenai pernyataannya yang menyebut dirinya “belum merdeka.”
Tukang pangkas tersebut disebut memilih diam.
Kalimat “belum merdeka” tentu tidak serta-merta berarti seseorang menolak kemerdekaan Indonesia. Bisa saja kalimat itu merupakan bentuk kritik terhadap kondisi kehidupan yang dirasakan.
Sebuah negara memang telah merdeka secara hukum dan politik. Namun, bagi sebagian rakyat, pertanyaan mengenai makna kemerdekaan tetap muncul ketika mereka belum sepenuhnya merasakan kesejahteraan dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.
Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan. Merdeka juga berarti rakyat memiliki kesempatan memperoleh pekerjaan, mendapatkan penghasilan yang layak, mampu membeli kebutuhan pokok, mendapatkan pelayanan publik yang baik serta memperoleh keadilan di hadapan hukum.
Karena itu, mempertanyakan apakah rakyat sudah benar-benar merasakan kemerdekaan bukan berarti menyangkal kemerdekaan Indonesia.
Justru pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan belum selesai dalam arti sosial dan ekonomi.
Bendera boleh berkibar tinggi, karnaval boleh meriah, dan panggung kemerdekaan boleh megah. Tetapi pertanyaan paling sederhana tetap harus dijawab: ketika harga kebutuhan terus melambung dan lapangan pekerjaan semakin sulit, apakah rakyat sudah benar-benar merasakan arti kemerdekaan itu?