Jakarta, CRNN — Sejumlah wilayah Indonesia mengalami suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius pada awal dasarian II Agustus 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah meluasnya musim kemarau serta menguatnya fenomena El Nino dan kecenderungan positif Indian Ocean Dipole (IOD).

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode 10 Agustus pukul 07.00 WIB hingga 11 Agustus pukul 07.00 WIB, suhu tertinggi tercatat di Stasiun Meteorologi (Stamet) Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat, yang mencapai 37,4 derajat Celsius.

Posisi berikutnya ditempati Stasiun Geofisika (Stageof) Lampung Utara di Kotabumi dengan suhu maksimum 36 derajat Celsius.

Sementara itu, Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda di Blang Bintang, Aceh Besar, dan Stamet Tanjung Harapan di Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara, sama-sama mencatat suhu maksimum 35,8 derajat Celsius.

10 Wilayah dengan Suhu Tertinggi

Berikut daftar 10 stasiun dengan suhu maksimum tertinggi berdasarkan data BMKG:

1. Stamet Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat: 37,4°C

2. Stageof Lampung Utara, Kotabumi, Lampung: 36,0°C

3. Stamet Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar: 35,8°C

4. Stamet Tanjung Harapan, Tanjung Selor, Kalimantan Utara: 35,8°C

5. Stamet Pangsuma, Putussibau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat: 35,7°C

6. Stamet Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan: 35,6°C

7. Staklim Aceh, Indrapuri, Aceh Besar: 35,6°C

8. Stamet Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur: 35,5°C

9. Stamet Maritim Pontianak, Pontianak, Kalimantan Barat: 35,4°C

10. Stamet Nangapinoh, Nanga Pinoh, Melawi, Kalimantan Barat: 35,4°C

Kemarau Makin Kering

BMKG menyebut perkembangan kondisi iklim hingga akhir Juli menunjukkan atmosfer semakin mendukung kondisi kering di Indonesia.

Fenomena El Nino yang kuat dan IOD yang cenderung positif menjadi dua faktor utama yang berkontribusi terhadap berkurangnya pasokan hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Sebanyak 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.

Kondisi kering tersebut juga terlihat dari curah hujan pada Dasarian III Juli. Sekitar 76,3 persen wilayah Indonesia mengalami sifat hujan di bawah normal.

BMKG memperkirakan kondisi kering masih berlanjut pada awal Agustus. Situasi tersebut meningkatkan potensi kekeringan meteorologis serta risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat di atas +2 derajat Celsius, yang mengindikasikan El Nino berada dalam kategori kuat. Sementara itu, indeks IOD berada di angka +0,63.

Kombinasi kedua fenomena tersebut membuat musim kemarau di Indonesia berpotensi menjadi lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Pada Dasarian II Agustus, BMKG memprakirakan curah hujan kategori rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian, akan mendominasi sekitar 95,62 persen wilayah Indonesia.

Hanya sekitar 4,38 persen wilayah yang diperkirakan mengalami curah hujan kategori menengah.

Curah hujan rendah diprediksi terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku hingga Papua.

Meski kondisi kering mendominasi, BMKG menyebut hujan masih berpeluang terjadi secara lokal akibat adanya sejumlah gangguan atmosfer.

Masyarakat di wilayah yang mengalami kemarau panjang diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan, keterbatasan air serta potensi kebakaran hutan dan lahan.