Blangpidie – CRNN— Budidaya lele dengan sistem bioflok selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu program yang banyak didorong pemerintah maupun berbagai lembaga. Sistem ini diklaim mampu meningkatkan kepadatan tebar, menghemat penggunaan air, dan mempercepat pertumbuhan ikan.

Namun di lapangan, tidak sedikit peternak yang mengaku justru mengalami kerugian. Besarnya biaya investasi awal, tingginya harga pakan, biaya listrik untuk aerator yang harus menyala selama 24 jam, hingga tingginya angka kematian ikan menjadi penyebab usaha tersebut tidak selalu menghasilkan keuntungan.

Sejumlah peternak mengaku modal yang dikeluarkan sering kali lebih besar dibandingkan hasil panen. Salah seorang pembudidaya lele di Aceh yang enggan disebutkan namanya mengaku telah menghabiskan puluhan juta rupiah untuk membangun kolam bioflok, membeli terpal, blower, aerator, bibit, probiotik, serta pakan.

“Kalau panennya bagus memang bisa untung. Tapi kalau listrik mati, kualitas air turun atau harga pakan naik, keuntungan langsung habis. Bahkan pernah rugi karena banyak ikan mati,” ujarnya.

Menurutnya, biaya pakan menjadi komponen terbesar dalam usaha budidaya lele. Dalam satu siklus pemeliharaan, biaya pakan dapat mencapai lebih dari 60 persen dari total biaya produksi. Kondisi semakin berat ketika harga jual lele di tingkat petani tidak mengalami kenaikan yang signifikan.

Selain pakan, biaya listrik juga menjadi beban tersendiri. Berbeda dengan kolam konvensional, sistem bioflok mengharuskan aerator bekerja tanpa henti agar suplai oksigen tetap terjaga. Ketika listrik padam dalam waktu lama, ikan berisiko mengalami stres bahkan mati massal.

Pengamat perikanan menilai sistem bioflok bukanlah teknologi yang otomatis menjamin keuntungan. Keberhasilannya sangat bergantung pada manajemen budidaya, kualitas benih, pengelolaan kualitas air, kemampuan pembudidaya, serta kondisi pasar.

Mereka mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan promosi yang menyebut budidaya bioflok selalu menghasilkan keuntungan besar. Sebelum memulai usaha, calon peternak perlu menghitung secara rinci kebutuhan investasi, biaya operasional, potensi risiko, hingga kepastian pasar.

Di sisi lain, pemerintah diharapkan tidak hanya memberikan bantuan kolam bioflok, tetapi juga pendampingan teknis, pelatihan manajemen usaha, akses pakan dengan harga terjangkau, serta membantu pemasaran hasil panen.

Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, program bantuan bioflok dikhawatirkan hanya berhenti pada tahap pembangunan kolam, sementara banyak penerima bantuan kesulitan melanjutkan usaha akibat tingginya biaya operasional.

Pada akhirnya, budidaya lele bioflok memang memiliki potensi menghasilkan keuntungan. Namun, teknologi tersebut bukan tanpa risiko. Bagi sebagian peternak, terutama yang memiliki keterbatasan modal dan pengalaman, biaya operasional yang tinggi justru membuat usaha ini lebih banyak menguras modal dibandingkan memberikan keuntungan.