Banda Aceh|CRNN—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menuai sorotan dari kalangan akademisi. Dosen Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Dr. Fairus M. Nur Ibrahim, MA, mengingatkan agar pelaksanaan program tersebut tidak salah arah sehingga berpotensi menjadi “bom waktu” bagi kesehatan generasi muda.
Menurutnya, istilah “bom waktu MBG” memang terdengar provokatif, namun relevan dalam konteks kebijakan pangan dan gizi nasional. Ia menjelaskan, dampak paling serius dari pola makan tidak selalu langsung terlihat, melainkan muncul secara perlahan dan baru terasa dalam jangka panjang.
Saat ini, Indonesia menghadapi peningkatan kasus penyakit kronis pada anak dan remaja yang sebelumnya jarang terjadi pada usia muda. Penyakit seperti gagal ginjal, obesitas, diabetes, gangguan metabolik, hingga penyakit hati mulai muncul lebih dini. Kondisi tersebut, kata Fairus, erat kaitannya dengan pola makan yang didominasi makanan ultra-proses yang tinggi gula, garam, lemak, dan zat aditif.
MBG sendiri hadir sebagai kebijakan strategis negara berbasis pangan, gizi, dan pembangunan sumber daya manusia. Selain menjadi bagian dari realisasi janji politik dalam Pemilu lalu, program ini bertujuan menjamin akses makan bagi anak-anak dari keluarga rentan di seluruh Indonesia.
Namun, Fairus menilai skala program yang masif dan cakupan nasional menuntut perencanaan yang sangat matang. Ia mengingatkan bahwa kesalahan kecil dalam standar menu, pemilihan bahan baku, maupun filosofi gizi dapat berdampak besar dan berjangka panjang.
Salah satu potensi persoalan yang disorot adalah reduksi makna gizi. Jika gizi hanya dipahami sebatas angka kalori dan daftar zat gizi di atas kertas, maka makanan ultra-proses seperti nugget, sosis, mi instan, atau minuman berpemanis bisa saja dinilai layak karena memenuhi hitungan protein atau vitamin. Padahal, tubuh anak tidak hanya merespons angka, melainkan juga kualitas bahan, tingkat pemrosesan, dan keseimbangan alami nutrisi.
Ia juga mengingatkan soal pembentukan selera makan anak. Makanan yang terbiasa dikonsumsi hari ini akan membentuk preferensi di masa depan. Jika anak dibiasakan dengan rasa gurih buatan, manis berlebih, dan tekstur instan, maka standar rasa itulah yang akan mereka cari. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menggeser budaya pangan sehat dan alami.
Selain aspek kesehatan, Fairus menilai desain program yang kurang tepat berpotensi menimbulkan beban fiskal di masa depan. Anak-anak yang tumbuh dengan pola makan tidak sehat berisiko mengalami penyakit tidak menular yang membutuhkan biaya pengobatan besar. “Jika tidak dirancang dengan benar, negara bisa membayar dua kali: hari ini untuk makan, esok untuk obat-obatan,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong agar MBG dirancang berbasis pangan segar, minim proses, serta melibatkan pengawasan ketat dari ahli gizi, tenaga kesehatan, dan akademisi. Menurutnya, keberhasilan program ini bukan hanya soal distribusi makanan, tetapi tentang investasi jangka panjang dalam membangun generasi sehat dan produktif.
Dengan pengelolaan yang tepat, MBG dapat menjadi tonggak penting perbaikan gizi nasional. Namun tanpa kehati-hatian, ia berpotensi menjadi masalah kesehatan jangka panjang yang baru akan dirasakan dampaknya di masa mendatang.