ABDYA|CRNN—Skandal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terulang. Kali ini, kejadian menjijikkan itu menimpa siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Desa Alupade, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Makanan yang dibagikan kepada anak-anak sekolah dilaporkan berisi ulat—sebuah pemandangan yang jauh dari kata “bergizi”, apalagi “layak”.

Peristiwa ini bukan insiden tunggal. Ia hanyalah satu bab dari rangkaian panjang kegagalan MBG yang terus berulang di berbagai daerah. Ironisnya, semua ini terjadi di tengah anggaran program yang nilainya fantastis—menembus ratusan triliun rupiah. Angka yang bahkan melampaui nalar sehat, terutama ketika hasil di lapangan justru menyuguhkan makanan tak layak konsumsi.

Penolakan terhadap MBG datang dari berbagai kalangan: orang tua murid, guru, aktivis, hingga masyarakat sipil. Namun suara-suara itu seolah tenggelam di balik tembok kekuasaan. Pemerintah dinilai lebih sibuk mengamankan citra program ketimbang memastikan kualitas makanan yang masuk ke perut anak-anak.

Informasi terkait temuan makanan berulat di MIN Alupade ini diterima awak media dari Komandan Santri Bela Negara (SBN), Tengku T. Misbar as Salmani. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai bukti nyata kegagalan pengawasan dan lemahnya tanggung jawab negara dalam mengelola anggaran publik yang begitu besar.

Pertanyaan publik pun kian tajam: ke mana larinya uang negara sebesar itu, jika di meja makan anak sekolah masih ditemukan ulat? Jika anggaran MBG benar-benar dimaksudkan untuk menyelamatkan generasi masa depan, mengapa yang tersaji justru potret kelalaian yang berulang?

Di tengah krisis ekonomi, infrastruktur rusak, dan kebutuhan rakyat yang mendesak, MBG berdiri sebagai program supermahal dengan hasil yang memalukan. Negara tampak tutup mata dan tutup telinga, sementara anak-anak—yang tak punya kuasa menolak—terus dijadikan korban kebijakan.

Selama evaluasi menyeluruh tak pernah benar-benar dilakukan, selama kritik hanya dianggap gangguan, maka ulat di piring anak sekolah bukan sekadar kecelakaan. Ia adalah simbol kebobrokan kebijakan, dan bukti bahwa anggaran besar tak selalu berbanding lurus dengan kepedulian negara.

Menu MBG ini diketahui berasal dari dapur MBG alupade kecamatan Kuala batee