ACEH BARAT DAYA,CRNN, Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) meminta pemerintah kabupaten setempat melalui Dinas Pendidikan Dayah agar memberikan kesempatan yang adil dan merata kepada seluruh santri dalam memperoleh bantuan beasiswa pendidikan dayah, baik yang menuntut ilmu di luar daerah maupun yang mondok di dayah-dayah dalam wilayah Abdya.
Permintaan tersebut disampaikan HUDA Abdya melalui pernyataan sikap sebagai bentuk aspirasi terhadap kebijakan beasiswa santri. HUDA mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Abdya yang telah membuka peluang bantuan pendidikan bagi para santri, sekaligus berharap agar program tersebut dapat menjangkau santri lokal yang memenuhi persyaratan.
HUDA menilai, santri yang menuntut ilmu di dayah dalam wilayah Abdya memiliki perjuangan, pengorbanan, dan semangat yang sama dengan santri yang belajar di luar daerah. Karena itu, lokasi tempat menuntut ilmu diharapkan tidak menjadi alasan untuk membatasi kesempatan memperoleh bantuan pendidikan.
“Apakah karena mereka mondok di dalam daerah, perjuangan mereka menjadi kurang berarti?” demikian pertanyaan yang disampaikan HUDA Abdya dalam pernyataan sikapnya.
Menurut HUDA, para santri sama-sama mengabdikan waktu untuk mempelajari ilmu agama, mendalami kitab-kitab keislaman, menghafal Al-Qur’an, membentuk akhlak, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat.
HUDA Minta Kebijakan Ditinjau Kembali
HUDA Abdya memahami bahwa pemberian beasiswa harus mempertimbangkan kemampuan anggaran daerah, persyaratan administrasi, serta ketentuan yang berlaku. Namun, keterbatasan anggaran diharapkan tidak sampai menghilangkan kesempatan santri yang belajar di dayah lokal untuk mendapatkan bantuan.
HUDA juga menegaskan bahwa santri yang mondok di Abdya bukan berarti tidak memiliki prestasi. Salah satu contoh yang disampaikan adalah santri Dayah Madinatul Fata yang disebut pernah mewakili Abdya dalam ajang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK/MQA) tingkat Provinsi dan meraih juara.
Informasi mengenai prestasi tersebut dapat dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak dayah maupun instansi terkait. HUDA juga meyakini bahwa dayah-dayah lain di Abdya memiliki santri berprestasi yang patut memperoleh perhatian dan dukungan pemerintah.
Atas dasar itu, HUDA meminta Dinas Pendidikan Dayah Abdya meninjau serta mempertimbangkan kembali kebijakan beasiswa santri dengan mengedepankan prinsip keadilan, pemerataan kesempatan, dan penghargaan terhadap prestasi.
Jangan Sampai Santri Lokal Merasa Dianaktirikan
Dalam pernyataannya, HUDA mengingatkan bahwa santri yang memilih mondok di dalam wilayah Abdya tidak selalu memiliki kesempatan atau kemampuan ekonomi untuk belajar di luar daerah.
Sebagian keluarga mungkin memilih dayah yang lebih dekat karena pertimbangan biaya dan keterbatasan ekonomi. Kondisi tersebut, menurut HUDA, semestinya menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan pemerintah dalam merancang kebijakan bantuan pendidikan.
“Jangan sampai santri yang belajar di daerah sendiri merasa dianaktirikan di tanah kelahirannya sendiri,” demikian penegasan dalam pernyataan tersebut.
HUDA menekankan bahwa aspirasi ini bukan bertujuan mempertentangkan santri yang belajar di luar daerah dengan santri yang belajar di dalam Abdya. Pihaknya juga tidak bermaksud mengurangi hak santri mana pun, melainkan memperjuangkan agar seluruh santri yang memenuhi persyaratan mendapatkan perhatian dan kesempatan yang proporsional.
Menurut HUDA, dayah-dayah di Abdya merupakan bagian penting dari pembangunan pendidikan Islam dan pembinaan generasi penerus daerah. Oleh sebab itu, keberadaan dayah lokal beserta santri-santrinya diharapkan mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah kabupaten.
Dorong Beasiswa Menjangkau Seluruh Santri yang Memenuhi Syarat
HUDA menyatakan keyakinannya bahwa Pemerintah Kabupaten Abdya memiliki komitmen untuk memajukan pendidikan Islam. Karena itu, aspirasi tersebut diharapkan menjadi masukan konstruktif bagi pemerintah dalam mengevaluasi pelaksanaan program beasiswa santri.
HUDA berharap ke depan bantuan pendidikan dapat menjangkau seluruh santri Abdya yang memenuhi persyaratan, tanpa membedakan tempat mereka menuntut ilmu, dengan besaran bantuan yang disesuaikan berdasarkan kemampuan anggaran dan ketentuan yang berlaku.
Bagi HUDA, inti persoalan ini bukan semata-mata mengenai besaran bantuan, melainkan tentang kesetaraan kesempatan dan pengakuan terhadap perjuangan seluruh santri dalam menuntut ilmu agama.
“Mereka semua adalah santri Abdya. Mereka semua sedang berjuang menuntut ilmu agama. Dan mereka semua adalah bagian dari masa depan Aceh Barat Daya.”
Melalui pernyataan sikap tersebut, HUDA Abdya menegaskan dukungannya terhadap program pemerintah yang berpihak pada pendidikan Islam, sembari mengingatkan pentingnya kebijakan yang adil agar tidak ada santri yang merasa dilupakan di daerahnya sendiri.
Redaksi CRNN News — Aspirasi publik, kepentingan masyarakat