Jakarta,CRNN— Pemerintah membanggakan 8,3 miliar porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai keberhasilan besar. Namun di balik angka fantastis itu, publik mulai mempertanyakan: berapa triliun uang negara yang sudah dihabiskan, dan apakah hasilnya benar-benar sebanding?
Presiden Prabowo mengklaim program ini telah menjangkau 62,4 juta penerima manfaat setiap hari serta membuka jutaan lapangan kerja. Tapi di saat yang sama, pemerintah juga mengakui telah menutup lebih dari 3.000 dapur MBG karena tidak memenuhi standar operasional.
Fakta ini memunculkan pertanyaan serius: jika ribuan dapur bermasalah sampai harus ditutup, seberapa kuat sebenarnya pengawasan program yang menyedot anggaran jumbo tersebut?
Publik bukan menolak anak-anak mendapat makanan bergizi. Yang dipersoalkan adalah skala anggaran yang begitu besar di tengah kondisi ekonomi rakyat yang masih sulit. Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja belum stabil, layanan kesehatan masih banyak dikeluhkan, namun pemerintah terkesan tetap memaksakan program ini meski kritik terus bermunculan.
Kini muncul kekhawatiran bahwa MBG bukan lagi sekadar program gizi, melainkan proyek politik jangka panjang yang dibungkus narasi kepedulian sosial. Sebab jika triliunan rupiah terus digelontorkan tanpa transparansi dan hasil yang benar-benar terukur, maka publik berhak curiga: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari program ini?