Jakarta |CRNN— Langkah pemerintah Indonesia mengekspor beras perdana sebanyak 2.280 ton ke Arab Saudi mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Keberhasilan ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa produksi beras nasional kini berada pada level yang sangat stabil bahkan mulai melampaui kebutuhan domestik.
Rektor Perbanas Institute, Hermanto Siregar, menyebut ekspor tersebut sebagai bukti nyata bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras yang semakin kokoh.
Menurut Hermanto, lonjakan produksi beras sepanjang periode 2025–2026 menjadi faktor utama yang memungkinkan Indonesia mulai menembus pasar internasional. Ia bahkan menyebut surplus beras nasional tahun ini mencapai sekitar 17 juta ton, yang disebutnya sebagai salah satu capaian terbesar sepanjang sejarah produksi pangan nasional.
“Produksinya luar biasa bagus. Swasembada tahun ini merupakan yang terkuat sepanjang sejarah, dan stok beras pemerintah telah mencapai 4,2 juta ton,” ujar Hermanto dalam keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (8/3/2026).
Ia menilai dengan cadangan beras yang besar dan produksi yang stabil, Indonesia kini tidak hanya mampu menjaga ketahanan pangan dalam negeri, tetapi juga mulai memperkuat posisinya di pasar beras global melalui ekspor.
Namun demikian, Hermanto mengingatkan bahwa keberhasilan produksi dan ekspor tidak boleh hanya berhenti pada angka statistik. Ia menegaskan bahwa petani harus menjadi pihak yang paling merasakan manfaat dari peningkatan produksi tersebut.
“Ini yang kita tunggu, sehingga ke depan apa yang dilakukan petani benar-benar bisa kembali ke petani. Harus ada dampak nyata terhadap pemasukan dalam negeri dan kesejahteraan para petani,” tegasnya.
Hermanto berharap momentum ekspor beras ini dapat dijaga melalui kebijakan yang konsisten, sistem distribusi yang kuat, serta pengelolaan stok yang lebih baik agar swasembada beras tetap berkelanjutan.
Apresiasi serupa juga disampaikan pengamat pertanian dari IPB University, Prima Gandhi. Ia menilai ekspor beras ke Arab Saudi merupakan catatan penting dalam perjalanan swasembada pangan Indonesia.
Menurut Prima, keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa program peningkatan produksi pertanian yang dijalankan pada masa pemerintahan Prabowo Subianto mulai menunjukkan hasil yang nyata.
“Ekspor ini adalah bukti bahwa swasembada beras Indonesia tidak bersifat sementara, tetapi terus berjalan secara berkelanjutan dan produktif,” ujarnya.
Prima menambahkan, ekspor beras memiliki nilai strategis bagi ketahanan pangan sekaligus keseimbangan perdagangan nasional. Dengan produksi yang meningkat tajam dan cadangan yang besar, Indonesia dinilai memiliki peluang lebih besar untuk memperkuat perannya di pasar beras internasional.
“Lompatan produksi kita sangat jauh di atas rata-rata. Kalau stok dan pasokan dalam negeri terjaga, maka ekspor menjadi langkah strategis untuk memperkuat peran Indonesia di pasar global,” kata Prima.
Meski begitu, para pengamat mengingatkan bahwa tantangan terbesar ke depan bukan hanya menjaga produksi tetap tinggi, tetapi memastikan bahwa keberhasilan swasembada benar-benar meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ekonomi nasional secara berkelanjutan.