Jakarta|CRNN—Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah putra Shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, menyerukan negara-negara Eropa untuk bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam upaya menekan pemerintahan Iran saat ini. Seruan tersebut memicu kontroversi dan menjadi sorotan luas di media internasional.

Reza Pahlavi (65), yang merupakan putra dari Shah Iran terakhir Mohammad Reza Pahlavi, diketahui telah lama hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat sejak Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan pemerintahan monarki di negara tersebut.

Pernyataan kontroversial itu muncul dalam sebuah rekaman panggilan telepon yang belakangan viral di media sosial X. Rekaman tersebut merupakan hasil panggilan prank yang dilakukan oleh duo komedian Rusia Vovan dan Lexus, yang menyamar sebagai Kanselir Jerman Friedrich Merz.

Dalam percakapan tersebut, Reza Pahlavi menyerukan agar negara-negara Eropa ikut bergabung dalam apa yang ia sebut sebagai “perang salib” melawan rezim Iran saat ini. Ia juga mengajak masyarakat Iran untuk bangkit dan menggulingkan pemerintahan yang berkuasa di Teheran.

Menurutnya, situasi yang terjadi saat ini merupakan momentum yang tepat untuk menjatuhkan pemerintahan Republik Islam Iran yang telah berkuasa sejak menggulingkan ayahnya dalam Revolusi Iran 1979.

Reza Pahlavi bahkan menyatakan kesiapannya untuk kembali ke Iran jika pemerintahan saat ini runtuh, serta memimpin masa transisi menuju pemerintahan baru. Ia menilai otoritas yang saat ini memimpin Iran tidak lagi memiliki legitimasi di mata rakyat.

Sementara itu, sikap negara-negara Eropa terhadap konflik yang semakin memanas di Timur Tengah terlihat tidak sepenuhnya sejalan. Inggris dan Spanyol sebelumnya sempat menolak memberikan akses pangkalan militer mereka bagi pasukan AS yang terlibat dalam serangan terhadap Iran.

Namun, London kemudian dilaporkan mengubah sikapnya setelah mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Di sisi lain, pemerintah Spanyol juga mengumumkan akan mengirim kapal perang ke Siprus untuk membantu melindungi pangkalan Angkatan Udara Inggris dari potensi serangan balasan Iran.

Langkah tersebut dilakukan bersama sejumlah negara Eropa lainnya, seperti Italia, Prancis, dan Belanda, yang ikut memperkuat keamanan instalasi militer di kawasan tersebut.

Sebelumnya, serangan besar-besaran yang dilakukan militer AS dan Israel terhadap Iran dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sejumlah komandan militer senior, serta ratusan warga sipil.

Sebagai balasan, Teheran meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal ke wilayah Israel serta menargetkan sejumlah fasilitas militer milik AS di berbagai wilayah Timur Tengah.

Eskalasi konflik ini memicu kekhawatiran komunitas internasional akan meluasnya perang yang dapat melibatkan lebih banyak negara di kawasan maupun kekuatan global. Selain itu, ancaman penutupan Selat Hormuz juga menimbulkan dampak serius terhadap stabilitas energi dunia, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas internasional.