ACEH BARAT DAYA |CRNN— dr Adi (mantan PLT Dinkes Abdya), turut memberikan tanggapan terkait polemik yang terjadi antara dua dokter di lingkungan RSUD Teungku Peukan Aceh Barat Daya (Abdya).

Menurut dr Adi, selama ini pembagian tugas dan fungsi (tupoksi) masing-masing Kepala Seksi (Kasi) di Bidang Pelayanan Medis sebenarnya sudah jelas. Namun dalam praktik di lapangan, kedua kasi tersebut kerap saling membantu demi kelancaran pelayanan di rumah sakit.

“Selama ini walaupun tupoksi masing-masing kepala seksi di bidang pelayanan medis sudah jelas, namun di lapangan sering kali kedua kasi ini saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan,” ujar dr Adi.

Ia juga mencontohkan bahwa dirinya kerap turun langsung membantu persoalan pelayanan meskipun secara struktur hal tersebut bukan merupakan tanggung jawab langsungnya.

“Walaupun pelayanan IGD bukan berada di bawah tanggung jawab saya, namun bisa dicrosscheck kepada rekan-rekan dokter umum di IGD, siapa yang sering muncul di luar jam kerja, terutama pada malam hari ketika ada persoalan teknis terkait pelayanan. Pasti jawabannya dr Adi,” katanya.

Meski demikian, ia mengaku tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, karena baginya yang terpenting adalah pelayanan medis kepada masyarakat dapat berjalan dengan baik.

“Saya tidak pernah mempersoalkan hal itu, bahkan untuk menceritakannya di kalangan manajemen pun tidak pernah. Yang saya inginkan hanyalah pekerjaan di pelayanan medis dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

Terkait pemberitaan di sejumlah media yang turut membawa-bawa persoalan jabatan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Abdya, dr Adi menilai hal tersebut kurang bijak.

Menurutnya, pemberitaan tersebut dapat menimbulkan kesan seolah-olah kondisi tersebut mempengaruhi pelayanan di RSUD Teungku Peukan.

“Terkait pemberitaan yang membawa-bawa urusan Plt Kepala Dinas Kesehatan, menurut saya itu kurang bijak. Seolah-olah karena hal tersebut pelayanan di RSUDTP menjadi terganggu,” jelasnya.

Ia menambahkan, selama ini apabila ada persoalan pekerjaan yang berada di bawah koordinasinya, baik dr Delfi maupun dr Anita biasanya akan menginformasikannya kepada dirinya untuk kemudian diselesaikan bersama.

“Biasanya mereka juga jika ada hal-hal terkait pekerjaan di bawah saya akan menginformasikannya kepada saya, kemudian saya yang akan menyelesaikannya,” kata dr Adi.

Namun pada hari kejadian, ia menilai kemungkinan terjadi kesalahpahaman yang kemudian berujung pada insiden antara keduanya.

“Saya sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi. Saya dekat dengan mereka berdua,” ungkapnya.

Berdasarkan komunikasi yang ia lakukan dengan masing-masing pihak, dr Adi menyebut bahwa dr Delfi telah mengakui kekhilafannya dan berusaha menyampaikan permohonan maaf.

“Dari pembicaraan saya dengan mereka berdua, dr Delfi mengakui khilaf dan telah berusaha memohon maaf, namun tidak mendapat respons,” ujarnya.

Sementara itu, menurutnya, pihak dr Anita tetap memilih menempuh jalur hukum dan belum membuka peluang penyelesaian secara kekeluargaan.

“Dari pihak dr Anita juga tetap tidak membuka peluang untuk berdamai secara kekeluargaan dan memilih melanjutkan melalui jalur hukum,” tambahnya.

dr Adi pun mengaku sangat menyayangkan situasi tersebut. Menurutnya, Bidang Pelayanan Medis seharusnya dapat bekerja secara kompak dalam menjalankan tugas.

“Sangat disayangkan, karena seharusnya Bidang Pelayanan Medis kompak dalam menjalankan tugas. Dalam bekerja tentu ada kelebihan dan kekurangan di antara sesama personel manajemen. Namun ternyata tidak semua memiliki sudut pandang yang sama seperti yang saya harapkan,” pungkasnya.