BIREUEN|CRNN— Insiden dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan murid SD dan TK di Kecamatan Simpang Mamplam tak bisa lagi dianggap sebagai kejadian biasa. Ini bukan sekadar kelalaian administratif. Ini menyangkut kesehatan dan nyawa anak-anak.
Sedikitnya 13 siswa telah dirawat di Puskesmas Simpang Mamplam dan jumlah korban dilaporkan terus bertambah. Sebagian lainnya bahkan harus dirujuk ke Puskesmas Pandrah dan Samalanga karena keterbatasan fasilitas.
Para murid dilaporkan mulai mengalami gejala mual, muntah, dan sakit perut setelah menyantap paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan secara door to door selama Ramadan. Fakta bahwa gejala muncul hampir bersamaan menimbulkan pertanyaan serius: di mana letak kelalaiannya?
Perwakilan Yayasan Bumi Produksi Gizi, Zamzami, menyebut dugaan sementara mengarah pada menu bakso dan pihaknya masih melakukan pengecekan terhadap pemasok bahan baku dari UMKM lokal.
Namun publik tentu tidak cukup hanya dengan pernyataan “sedang dicek” atau “akan dievaluasi”.
Ini Soal Nyawa, Bukan Sekadar Evaluasi
Program MBG seharusnya menjamin asupan gizi yang aman dan layak bagi anak-anak. Jika justru berujung pada dugaan keracunan massal, maka ada potensi kelalaian serius dalam rantai produksi, distribusi, hingga pengawasan.
Pertanyaannya:
Apakah bahan baku telah diuji kelayakannya?
Apakah proses pengolahan memenuhi standar keamanan pangan?
Siapa yang bertanggung jawab atas kontrol kualitas?
Apakah ada pengawasan independen?
Jika terbukti ada unsur kelalaian atau pelanggaran standar keamanan pangan, maka penegak hukum tidak boleh ragu menetapkan pihak yang bertanggung jawab sebagai tersangka. Kejadian seperti ini tidak bisa selesai hanya dengan permintaan maaf dan janji evaluasi.

Masyarakat menuntut transparansi penuh dan investigasi menyeluruh. Jangan sampai program yang seharusnya membantu justru berubah menjadi ancaman bagi anak-anak.
Insiden ini harus menjadi alarm keras: keselamatan anak tidak boleh dikompromikan. Jika ada kesalahan fatal, maka harus ada konsekuensi hukum. Ini soal nyawa — jangan pernah dianggap sepele.