Aceh Timur |CRNN—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi masyarakat kembali menuai sorotan tajam. Alih-alih menyehatkan, puluhan siswa dan balita di Desa Bandar Baro dan Blang Nisam, Kecamatan Indra Makmu, justru harus dilarikan ke Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) usai menyantap menu MBG, Jumat (23/1).
Sejak siang hingga malam hari, suasana kepanikan menyelimuti warga. Satu per satu anak dan balita mengalami gejala serupa, mulai dari muntah-muntah hebat hingga diare akut. Kondisi ini memaksa keluarga membawa korban ke fasilitas kesehatan dalam waktu berdekatan, memicu kekhawatiran massal di tengah masyarakat.
Pj Keuchik Bandar Baro, Rasyidin, mengaku tidak berani secara langsung menyebut kejadian tersebut sebagai kasus keracunan. Namun fakta bahwa warganya harus dirujuk ke Puskesmas dan RSUD sesaat setelah mengonsumsi MBG menjadi pertanyaan serius tentang mutu dan pengawasan program tersebut.
Peristiwa ini menambah daftar panjang persoalan dalam pelaksanaan MBG, sebuah program nasional yang menelan anggaran sangat besar dari keuangan negara. Ironisnya, di lapangan manfaat yang dijanjikan kerap tak sebanding dengan dana yang digelontorkan. Alih-alih memperbaiki status gizi, program ini justru berulang kali memunculkan masalah kesehatan baru.
Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut efisiensi anggaran dan prioritas yang tepat sasaran, kejadian di Aceh Timur menjadi tamparan keras: apakah dana triliunan rupiah yang digelontorkan benar-benar menghadirkan manfaat nyata, atau sekadar menjadi proyek besar dengan risiko besar pula bagi masyarakat?
Hingga kini, warga masih menunggu kejelasan,
sementara publik mempertanyakan satu hal mendasar: untuk siapa sebenarnya program beranggaran besar ini dijalankan, jika keselamatan penerimanya pun tak sepenuhnya terjamin?