Jakarta |CRNN— Di Indonesia, sukun lebih dikenal sebagai camilan sederhana. Buah ini kerap digoreng dan dijual di warung pinggir jalan atau pasar tradisional dengan harga murah. Bentuknya bulat berkulit hijau berbintik, rasanya lembut sedikit manis, dan aromanya tidak terlalu menyengat. Bagi sebagian masyarakat, sukun hanyalah teman minum kopi sore.
Namun di luar negeri, pandangan terhadap sukun jauh berbeda. Di Amerika Serikat, kawasan Pasifik, hingga sejumlah negara Eropa, sukun kini dipandang sebagai superfood dan tanaman pangan masa depan. Sejumlah peneliti bahkan menyebutnya sebagai salah satu solusi potensial menghadapi krisis pangan global.
Salah satu keunggulan utama sukun adalah daya tahannya terhadap perubahan iklim. Tanaman ini dikenal sebagai climate-resilient crop, yakni mampu bertahan di tengah cuaca ekstrem, mulai dari panas berkepanjangan hingga hujan tidak menentu. Sukun juga tidak membutuhkan perawatan rumit atau pupuk kimia berlebihan. Sekali ditanam, pohonnya dapat berproduksi selama puluhan tahun.
Data Trees That Feed Foundation (2023) mencatat, satu pohon sukun dewasa mampu menghasilkan 150–200 buah per tahun, dengan berat rata-rata mencapai 3 kilogram per buah. Artinya, satu pohon bisa menyediakan hampir setengah ton bahan pangan setiap tahun dengan perawatan minimal. Tak heran jika sejumlah peneliti pangan global memasukkan sukun sebagai salah satu kandidat future food 2026.
Di negara maju, sukun tidak sekadar digoreng seperti di Indonesia. Buah ini diolah menjadi tepung bebas gluten (gluten-free flour) yang bernilai ekonomi tinggi. Di pasar daring internasional seperti Amazon dan eBay, tepung sukun kemasan 500 gram dijual dengan harga USD 10–15 atau setara Rp150.000–Rp225.000, tergantung kualitasnya. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tepung terigu biasa di dalam negeri.
Selain bernilai ekonomi, tepung sukun juga diminati karena manfaat kesehatannya. Sukun bebas gluten sehingga cocok bagi penderita celiac maupun mereka yang menjalani pola makan sehat. Riset University of British Columbia (2021) menyebutkan sukun kaya serat, vitamin C, magnesium, kalium, serta protein nabati dalam jumlah signifikan. Kandungan proteinnya bahkan disebut lebih tinggi dibandingkan nasi putih.
Ironisnya, Indonesia yang merupakan salah satu pusat keragaman genetik sukun belum memanfaatkan potensi ini secara maksimal. Tidak banyak petani yang melihat sukun sebagai komoditas bernilai tinggi. Branding dan dukungan industri pun dinilai masih minim. Padahal Indonesia memiliki puluhan varietas lokal, seperti sukun mentega, sukun Pontianak, sukun gundul, hingga sukun serat halus khas Papua.
Jika dikelola dengan visi yang jelas, sukun berpeluang menjadi komoditas ekspor strategis seperti kopi, vanili, atau porang. Terlebih di tengah ancaman perubahan iklim dan ketidakpastian pangan global, dunia sedang mencari alternatif pangan yang tahan banting, murah, dan sehat—kriteria yang dimiliki sukun.
Sejumlah negara di kawasan Pasifik telah lebih dulu mengambil langkah konkret. Samoa, Fiji, dan Hawaii memasukkan sukun dalam program ketahanan pangan nasional. Di Hawaii, Breadfruit Institute bekerja sama dengan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) membangun bank genetik dan mengembangkan varietas unggul.
Sementara di Fiji, pemerintah memberikan dukungan dan subsidi bagi petani yang membudidayakan sukun.
Melihat tren global tersebut, para pemerhati pangan menilai sudah saatnya Indonesia memberi perhatian serius terhadap sukun. Buah yang selama ini dianggap “buah kampung” itu berpotensi menjadi aset strategis bangsa jika dikelola secara modern dan berkelanjutan.